Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk Produktivitas

Sep 19, 2016 0 Comments in News by
Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk Produktivitas

Ah, keselamatan dan kesehatan kerja hanya akan membuat pekerjaan terhambat,

hanya akan membuat pekerja kesulitan,

hanya omong kosong, bermulut besar dan si pencari kesalahan.


Setidaknya itulah sebagian kutipan-kutipan pekerja yang paling sering kita dengar saat kita berusaha untuk mengoptimalkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Semua menertawakan, semua beralasan, semua hanya ‘takut’ saat melihat ‘si baju merah’ datang dan bertindak sesuka hati saat ia pergi, bak jelangkung dalam cerita mitos yang diyakini sebagian besar orang Indonesia.

Betapa sulitnya menyadarkan pekerja dari ancaman hazard dan risk dalam setiap aktivitas pekerjaannya, betapa sulitnya membangun budaya K3 dan menjadikan K3 sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban yang menjadi paradigma pekerja selama ini. Oh Tuhan, seandainya aku punya tongkat sihir niscaya akan ku kibaskan tongkatku untuk membuat semua pekerja di negeriku peduli akan keselamatannya, peduli akan kesehatannya, dan peduli akan masa depannya karena aku tau hal tersebut sangat berdampak positif baik bagi pekerja maupun perusahaan. Tapi aku tau itu tidak mungkin, kuakhiri pengandaianku ini sebelum petugas kesehatan datang menjemputku dan mendiagnosis kejiwaanku. Cukup mengejutkan bukan? Seorang praktisi K3 berputus asa dan berandai-andai sedemikian rupa? Ya, tentu saja, karena kami tahu bahwa dengan memprioritaskan K3 pekerjaan akan semakin mudah, target akan tercapai, dan produktivitas akan meningkat. Anda tidak percaya? Mari kita mulai.

Produktivitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti kemampuan untuk menghasilkan sesuatu. Dalam konteks pekerjaan, produktivitas berarti seorang pengusaha mempekerjakan pekerja untuk dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi perusahaannya atau dapat disebut profit. Dengan kata lain, output dari produktivitas adalah profit. Semakin tinggi produktivitas maka semakin tinggi profit, begitu pula sebaliknya. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan rencana usaha yang penerapannya berguna untuk mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (Rivai, 2004: 309). Atau poin utama dari definisi K3 adalah Accident Prevention (Pencegahan Kecelakaan). Lalu apa kaitannya K3 dengan produktivitas? Mari kita bahas.

Produktivitas suatu negara dapat dilihat melalui pendapatan perkapita yaitu perhitungan Gross National Product (GNP) dibagi jumlah penduduk suatu negara.

Pendapatan Perkapita = Gross National Product / Jumlah Penduduk

Gross National Product (GNP) merupakan pendapatan nasional. Pendapatan perkapita akan meningkat dengan meningkatnya GNP, atau sebaliknya, pendapatan perkapita rendah jika GNP bernilai rendah.  Nilai GNP dihasilkan melalui kontribusi pendapatan industri, dan pendapatan industri dihasilkan melalui kontribusi pekerja. Jika peran pekerja terganggu maka GNP pun akan terganggu, yang tentunya akan berdampak terhadap pendapatan perkapita. Atau dengan kata lain, produktivitas pekerja berperan penting dalam kaitannya dengan pendapatan nasional. Disinilah dibutuhkan peran K3 untuk melakukan tindakan preventif untuk mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, sehingga dapat mengurangi anggaran biaya perusahaan yang tentunya akan memaksimalkan produktivitas dan berkontibusi positif terhadap pendapatan perkapita bangsa.  Belum cukup? Simaklah ilustrasi berikut.

Setelah memahami ilustrasi diatas mari kita lihat fakta dilapangan. Kali ini penulis mengangkat kejadian kecelakaan kerja yang nyata terjadi di konstruksi bangunan (Juni 2016) tepatnya pekerjaan yang menggunakan mesin gerinda. Pekerja mengalami luka dan pendarahan cukup parah setelah mata pisau gerinda terlepas dari mesin dan terbang mengiris tangannya. Setelah dilakukan investigasi, ternyata faktor penyebab utamanya adalah mesin gerinda yang digunakan tidak standar. Gerinda tidak dilengkapi dengan cover dan mata pisau yang digunakan bukan merupakan mata pisau mesin gerinda tersebut. Ketidaksesuaian mata pisau menyebabkan perbedaan rpm (kecepatan putaran) mata pisau dengan standar rpm pada mesin. Hal tersebut membuat mata pisau terlepas dari mesin dan cover yang seharusnya menahan kontak langsung terhadap pekerja pun tidak terdapat pada gerinda sehingga kecelakaan kerja pun tak dapat dihindari. Kesimpulannya, alat kerja tidak standar. Sama seperti ilustrasi Budi bukan? Andai gerinda yang digunakan telah diinspeksi sebelumnya dan dipastikan memenuhi standar, kecelakaan tersebut seharusnya dapat dihindari. Dan seperti kita ketahui, kecelakaan tersebut membuat aktivitas pekerjaan terhenti bukan? Progress pekerjaan terhambat bukan? Perlu ada cost sebagai konsekuensi kecelakaan tersebut bukan? Dan masih banyak kerugian-kerugian lainnya.Budi adalah murid berprestasi di SMP Dharma Bhakti. Budi mendapat tugas mengarang dari gurunya dengan ketentuan 400 kata, ditulis menggunakan pensil 2B, dan waktu pengerjaan 30 menit. Karena tugas ini bersifat mendadak, Budi tidak membawa pensil 2B, Ia hanya membawa pensil HB. Kemudian Budi tetap memaksakan melanjutkan tugas dari gurunya dengan menggunkan pensil HB. Ternyata pensil yang digunakan ini menjadi hambatan baginya karena ditengah pengerjaan Ia harus berkali kali meraut pensilnya karena pensilnya sering patah. Waktu pengerjaan tugas pun habis dan tugas harus dikumpulkan. Hasilnya, nilai tugas Budi kurang maksimal. Tulisan yang Ia buat kurang dari 400 kata dan dinilai guru sulit untuk dibaca. Teman-teman Budi yang mengerjakan tugas sesuai instruksi guru cenderung mendapatkan hasil yang lebih baik. Dari cerita tersebut, apakah Budi bodoh dan pemalas? Apakah Ia mendapat waktu pengerjaan yang lebih sedikit dibanding teman-temannya? Jawabannya tentu tidak, Ia adalah murid berprestasi dan waktu yang diberikan sama dengan yang lain. Lalu apa? Ya, pensil yang digunakan. Alat kerja yang Budi gunakan tidak sesuai standar. Pensil HB memiliki stuktur tipis dan intensitas warna yang kurang tajam, berbeda dengan pensil 2B. Pensil sering patah, waktu berkurang karena Budi harus berkali-kali meruncingkan pensil, kelelahan, stress, tulisan sulit dibaca, dan masih banyak lagi. Hasilnya, Budi terpaksa harus menerima nilai yang kurang maksimal.

K3 dan produktivitas dapat kita kaitkan berdasarkan ilustrasi diatas. Standar-standar yang telah ditetapkan K3 pada dasarnya bukan untuk menyulitkan pekerjaan atau pekerja. Sebaliknya, hal itu akan sangat berguna untuk memaksimalkan pekerjaan. Hal ini lah yang disebut produktivitas. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami hal ini. Kita perlu mengubah paradigma K3 yang salah dan lebih menekankan K3 sebagai prioritas. Bukan hanya sekadar slogan atau tagline, melainkan bukti melalui tindakan nyata dari seluruh elemen. Maka sudah seharusnya K3 menjadi budaya perusahaan. Aturan yang dibuat tidak lagi menjadi paksaan tetapi diterima sebagai kebutuhan. Sesuatu yang dilakukan berdasarkan tanggung jawab akan memberikan hasil optimal dibandingkan dengan melakukan seseuatu didasarkan keharusan, kewajiban, atau paksaan. Dengan memprioritaskan K3, Percayalah pekerjaan akan semakin mudah, target akan tercapai, dan produktivitas akan meningkat.

Dan sekarang, setelah membaca sampai disini, Saya mengajak Anda untuk scroll mouse laptop/komputer Anda keatas dan berhenti tepat pada paragraf 2. Baca dan simak kembali, semoga Anda menyesal karena sebelumnya telah menertawai pengandaian penulis.(Chairul Anwar Nasution)

image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *