KAJIAN OSH: PENYAKIT AKIBAT KERJA DI INDONESIA

Apr 30, 2021 0 Comments in News by

WhatsApp Image 2021-04-30 at 08.02.48Penyakit akibat kerja kurang disoroti dibandingkan kecelakaan kerja dalam sosialisasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk kasus penyakit akibat rata-rata hanya 25 kasus penyakit akibat kerja pertahun. Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh p ekerjaan dan/atau lingkungan kerja (Perpres No. 7 Tahun 2019). Terdapat tiga istilah yang digunakan untuk mendefinisikan penyakit akibat kerja yaitu penyakit yang timbul karena hubungan kerja, penyakit yang disebabkan karena pekerjaan atau lingkungan kerja, dan penyakit akibat kerja.

Ada beberapa jenis penyakit akibat kerja menurut Simposium Internasional oleh ILO, yaitu :

  1. Penyakit akibat kerja (occupational disease), yaitu penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.
  2. Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan (work related diseases), yaitu penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab dimana faktor pada pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor lainya dalam  perkembangan penyakitnya yang mempunyai etiologi kompleks.
  3. Penyakit yang mengenai populasi kerja (disease affecting working populations), yaitu penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab di tempat pekerja. Namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk untuk kesehatan.

Jenis penyakit akibat kerja yang sering terjadi :

Secara umum, jenis penyakit inilah yang paling sering terjadi.

1.    Asma

Asma merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang cukup sering terjadi, mengingat penyebabnya bisa menyebar di berbagai sektor pekerjaan. Asma yang menyerang para pekerja dapet berupa penyakit baru. Namun, kondisi tersebut juga mungkin merupakan kondisi kambuhan yang baru muncul akibat paparan bahan tertentu di tempat kerja.Asma yang gejalanya bisa dirasakan secara tiba-tiba, biasanya disebabkan oleh bahan-bahan iritan seperti klorin, debu, dan asap. Biasanya, penyakit ini menyerang pekerja di industri pengolahan kertas, pekerja konstruksi, dan pemadam kebakaran.Sementara itu, asma kronis atau yang masih akan terdeteksi hingga 2 tahun setelah paparan biasanya disebabkan oleh bioaerosol, lateks, tanaman dan binatang, bahan kimia dari cat. Penyakit ini umumnya dialami petugas kesehatan, petani dan peternak, hingga pelukis.

2.    Penyakit paru obstruktif kronis

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah penyebab kematian terbanyak nomor empat di dunia sekaligus penyakit akibat kerja yang umum terjadi. Dari total jumlah penderita PPOK, sebanyak 15% di antaranya adalah pekerja yang terpapar penyebab PPOK di lingkungan kerja.Penyebab paling utama dari PPOK di tempat kerja adalah asap dan uap dari pabrik maupun lokasi pekerjaan lain, debu, dan gas. Pekerja yang menglami PPOK umumnya mengeluhkan sesak napas, batuk, dan napas berbunyi nyaring.

3.    Carpal tunnel syndorme

Carpal tunnel syndrome adalah penyakit yang terjadi karena saraf median yang terletak di telapak tangan, mengalami tekanan berlebih. Kondisi ini menyebabkan tangan akan terasa lemah dan kesemutan hingga kebas.Penyakit akibat kerja yang satu ini biasanya menyerang pekerja yang bidang pekerjaannya mengharuskan berdiam lama di satu tempat dan mengerjakan hal yang sama dalam waktu lama. Contohnya adalah pada pekerja kantoran yang harus duduk dan mengetik dalam waktu yang lama tanpa jeda.Penyakit ini juga sering terjadi pada pekerja yang harus memegang benda yang mengeluarkan getaran dalam waktu lama, seperti dokter gigi.

4.    Dermatitis kontak

Dermatitis kontak adalah penyakit akibat kerja yang cukup banyak diderita, terutama oleh para pekerja yang bersinggungan dengan bahan-bahan kimia dan metal. Secara umum, dermatitis kontak akibat pekerjaan dibagi menjadi dua, yaitu yang terjadi karena iritan, dan akibat alergi.Dermatitis kontak iritan dapat muncul karena paparan bahan kimia seperti zat asam, air kotor, detergen, atau cairan pembersih. Sementara itu, dermatitis kontak alergi biasanya dipicu oleh besi, karet, zat kimia, hingga baja.
Penyakit ini akan membuat kulit pengidapnya terlihat kemerahan, gatal, kering, dan mengelupas.

5.    Gangguan tulang dan otot

Penyakit akibat kerja yang juga sering terjadi adalah munculnya gangguan pada tulang, otot, sendi, tendon, hingga tulang rawan. Hal ini biasanya disebabkan oleh posisi kerja yang kurang baik atau ergonomis, tekanan pada tulang dan sendi yang diterima terus menerus, dan getaran hebat dari alat kerja.Sebagian besar penyakit ini diderita oleh pekerja yang bergerak di bidang jasa dan manufaktur. Dari keseluruhan jumlah orang yang pengidap penyakit akibat kerja, gangguan tulang dan otot diderita kurang lebih sepertiganya.

Pencegahan

Berikut ini adalah penerapan konsep lima tingkatan pencegahan penyakit (five level of prevention disease) pada penyakit akibat kerja, yakni:

  1. Peningkatan kesehatan (health promotion). Misalnya: penyuluhan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pendidikan kesehatan, meningkatkan gizi yang baik, pengembangan kepribadian, perusahaan yang sehat dan memadai, rekreasi, lingkungan kerja yang memadai, penyuluhan perkawinan dan pendidikan seksual, konsultasi tentang keturunan dan pemeriksaan kesehatan periodik.
  1. Perlindungan khusus (specific protection). Misalnya: imunisasi, hygiene perorangan, sanitasi lingkungan, serta proteksi terhadap bahaya dan kecelakaan kerja dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm, kacamata kerja, masker, penutup telinga (ear muff dan ear plug) baju tahan panas, sarung tangan, dan sebagainya.
  1. Diagnosis (deteksi) dini dan pengobatan segera serta pembatasan titik-titik lemah untuk mencegah terjadinya komplikasi.
  2. Membatasi kemungkinan cacat (disability limitation). Misalnya: memeriksa dan mengobati tenaga kerja secara komprehensif, mengobati tenaga kerja secara sempurna dan pendidikan kesehatan.
  3. Pemulihan kesehatan (rehabilitation). Misalnya: rehabilitasi dan mempekerjakan kemali para pekerja yang menderita cacat. Sedapat mungkin perusahaan mencoba menempatkan.keryawankaryawan cacat di jabatan yang sesuai.

Upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mencegah PAK adalah sebagai berikut:

  1. Menyingkirkan atau mengurangi risiko pada sumbernya, misalnya menggantikan bahan kimia yang berbahaya dengan bahan yang tidak berbahaya.
  2. Mengurangi risiko dengan pengaturan mesin atau menggunakan APD.
  3. Menetapkan prosedur kerja secara aman untuk mengurangi risiko lebih lanjut.

Referensi:

Perpres No. 7 Tahun 2019

ILO 2018

ILO 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *