Kajian OSH : Amankah Naik Pesawat ?

Feb 26, 2021 0 Comments in News by

KaOSH (1)

Amankah Naik Pesawat ?

Transportasi udara di Indonesia semakin berperan dalam pengembangan perekonomian tanah air. Telah menjadi kewajiban bagi penyedia moda transportasi udara untuk dapat melayani penerbangan ke berbagai tujuan, baik domestik maupun mancanegara. Terutama dalam percepatan arus informasi, barang, dan penumpang. Kasus kecelakan di awal 2021, yang menimpa pesawat komersial Sriwijaya Air SJ182. Menjadikan moda transportasi udara sepi peminat. Banyak diantara penggunanya merasa khawatir akan keamanan pesawat yang ditumpanginya. Lantas masih amankah bepergian menggunakan moda transportasi ini ?

Kasus Kecelakaan  Pesawat

  1. 3 Desember 2016

Pesawat Polri jenis Skytruck hilang kontak di perairan Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, Sabtu 3 Desember 2016, sekitar pukul 11.10 WIB. Jumlah korban dalam pesawat ini sebanyak 13 orang.

  1. 18 Desember 2016

Pesawat Hercules TNI AU C-130 HS dengan kode penerbangan A-1334, jatuh pada Minggu, 18 Desember 2016 lalu di Wamena, Papua dalam misi penerbangan latihan Timika-Wamena. Pesawat ini diduga jatuh karena cuaca buruk. Sebanyak 12 kru dan satu penumpang meninggal dunia di lokasi.

  1. 26 Februari 2017

Pesawat Wings Air IW 1286 dengan registrasi PK WFV rute Bandung-Tanjung Karang mengalami pecah ban pada 26 Februari 2017, ketika proses pendaratan di Tanjung Karang, Bandar Lampung. Seluruh penumpang yang berjumlah 72 orang, termasuki kru pesawat selamat.

  1. 29 Oktober 2018

Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang hilang kontak pada 29 Oktober 2018 sekitar pukul 06.33 WIB. Pesawat ini membawa 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak dan 2 bayi dengan 2 Pilot dan 5 FA.

  1. 9 Januari 2021

Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu, 9 Januari 2021 usai lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten. Pesawat sempat delay hampir satu jam sebelum akhirnya berangkat pada pukul 14.36 WIB.

KNKT menyebutkan faktor penyebab kecelakaan penerbangan tahun 2010-2016 adalah faktor manusia (67,12%), teknis (15,75%), lingkungan (12,33%) dan fasilitas (4,79%).

Untuk menunjang keamanan serta keselamatan penerbangan, setiap bandara memliki standar persyaratan yang harus dipenuhi pengelola. Salah satunya adalah adanya sumber daya manusia yang handal sebagai pengedalian human error yang kerap menjadi faktor penyebab kecelakaan udara. Dalam hal ini semua personil keamanan penerbangan Aviation Security (AVSEC) adalah Personil Keamanan Penerbangan yang telah (wajib) memiliki lisensi atau surat tanda kecakapan petugas (STKP) yang diberi tugas dan tanggung jawab di bidang keamanan penerbangan, yang sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : SKEP/2765/XII/2010 (Bab I butir 9).

Berdasarkan UU No. 1 2009 tentang Penerbangan, dijelaskan dalam bab V Pembinaan, dimana mengatur terkait Penetapan kebijakan umum dan teknis yang terdiri atas penentuan norma, standar, pedoman, kriteria, perencanaan, dan prosedur termasuk persyaratan keselamatan dan keamanan penerbangan serta perizinan. Pengendalian meliputi pemberian arahan, bimbingan, pelatihan, sertifikasi, serta bantuan teknis di bidang pembangunan dan pengoperasian. Dan pengawasan pembangunan dan pengoperasian agar sesuai dengan peraturan perundang-undangan termasuk melakukan tindakan korektif dan penegakan hukum.

Keselamatan penerbangan juga diregulasikan oleh ICAO (International Civil Aviation Organization) dalam Annex Part 1-19, tentang Safety Management System, termasuk didalamnya adalah Kebijakan dan tujuan keselamatan, Manajemen risiko keselamatan, Jaminan keselamatan, dan Promosi keselamatan.

Menurut David Ropeik, instruktur komunikasi risiko di Harvad School of Public Health. Perjalanan menggunakan moda transportasi udara terasa lebih berbahaya karena persepsi risiko. Padahal moda transportasi udara inilah yang mempunyai kontrol manajeman sistem keselamatan yang membuat orang merasa lebih aman. Maka dari itu pesawat menjadi moda transportasi teraman untuk dinaiki.

Maintenance Pesawat

Maintenance pesawat adalah inspeksi periodik yang harus dilakukan pada seluruh pesawat terbang sipil setelah batas waktu atau penggunaan yang telah ditentukan sebelumnya. Maskapai mengikuti program inspeksi berkelanjutan yang disetujui oleh Federal Aviation Administration (FAA) di Amerika Serikat atau oleh otoritas penerbangan sipil lainnya seperti Direktorat Jenderal Perhubungan Udara di Indonesia . Setiap operator harus menyiapkan Dokumen Perencanaan Perawatan dan disetujui menjadi Continuous Airworthiness Maintenance Program (CAMP). CAMP meliputi inspeksi rutin dan detail. Maskapai dan otoritas penerbangan sipil umumnya menjelaskan ispeksi detail sebagai “check“, pemeliharaan meliputi sebagai berikut:

  • A check

Dilakukan setiap 400 – 600 jam terbang atau 200 – 300 pergerakan (lepas landas dan mendarat dianggap sebagai satu pergerakan pesawat), tergantung jenis pesawatnya. Pemeriksaan ini membutuhkan sekitar 150 – 180 jam kerja.

  • B check

Dilakukan setiap 6-8 bulan. Pemeriksaan membutuhkan 160 – 180 jam kerja, bergantung pada jenis pesawat, dan umumnya selesai dalam waktu 1 – 3 hari di hangar. Pemberlakuan jadwal yang sama bisa dilakukan kepada A dan B check. Selain itu, B check juga bisa digabungkan dalam A check yang berkelanjutan.

  • C check

Dilakukan kira-kira setiap 20 Р24 bulan atau pada jumlah jam terbang tertentu seperti yang ditetapkan oleh pembuat pesawat. Pemeriksaan  ini jauh lebih luas dibandingkan B check, sebagian besar komponen pesawat untuk diperiksa. Pemeriksaan ini membuat pesawat tidak bisa terbang hingga penyelesaiannya. Waktu yang dibutukan untuk pemeriksaan ini antara 1 -2 minggu dengan 6000 jam kerja.

  • D check

Pemeriksaan ini merupakan yang paling luas dan paling berat bagi sebuah pesawat. Pemeriksaan ini dilakukan kira-kira setiap enam tahun. Pemeriksaan ini membuat hampir semua bagian pesawat dibongkr untuk inspeksi dan diteliti. Pemeriksaan ini membutuhkan hingga 50000 jam kerja dan 2 bulan untuk selesai. sebuah pesawat komersial akan menjalani tiga D check sebelum dipensiunkan.

Maka, sebuah sistem manajemen keselamatan penerbangan yang baik, perlu didukung dengan prosedur maintenance pesawat yang baik, sesuai kebijakan dan peraturan yang berlaku.

Mitigasi Kecelakaan Pesawat

Kemungkinan untuk tewas dalam sebuah penerbangan komersil sebenarnya hanya 9 juta dibanding 1. Meski begitu, banyak hal buruk dapat terjadi pada ketinggian 10.000 meter di atas tanah, mitigasi tepat yang anda lakukan dapat menentukan kehidupan. Berikut mitigasi yang harus dilakukan :

  1. Kenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman. Semakin tertutup badan Anda saat tabrakan terjadi, makin kecil kemungkinan Anda terkena cedera serius atau luka bakar. Hindari sendal atau sepatu berhak tinggi agar tidak menyulitkan saat bergerak.
  2. Bacalah kartu keselamatan pesawat dan jangan abaikan instruksi keselamatan sebelum penerbangan.
  3. Temukan pintu keluar terdekat dengan Anda dengan menghitung jumlah tempat duduk yang harus anda lewati untuk mencapai pintu keluar terdekat.
  4. Selalu kenakan sabuk pengaman sepanjang waktu, pastikan tidak longgar. Ingatlah cara membuka sabuk pengaman dengan cepat dan mudah ketika keadaan darurat terjadi.
  5. Gunakan pelampung ketika pesawat mendarat darurat di wilayah perairan. Tunggu hingga keluar dari pesawat sebelum megembangkannya.
  6. Berikan ruang untuk diri, duduklah dengan tegak, serta amankan semua barang-barang yang berpotensi membahayakan. Selanjutnya, ambillah satu atau dua posisi menahan standar yang digunakan untuk menyelamatkan diri dari kecelakaan pesawat.
  7. Selamatkanlah diri anda terlebih dahulu sebelum menyelamatkan orang di sekitar anda.
  8. Tetaplah tenang meskipun keadaan disekitar sedang kacau agar dapat keluar dari pesawat dengan aman.
  9. Pakai masker oksigen Anda dahulu sebelum membantu orang lain. Jika suasana kabin kacau, Anda hanya memiliki sekitar 15 detik atau kurang untuk mulai bernapas melalui masker oksigen sebelum tidak sadarkan diri.
  10. Jika pesawat terbakar, Lindungi diri Anda dari asap. Asap dalam kebakaran pesawat bisa jadi sangat tebal dan sangat beracun maka tutupi hidung dan mulut Anda dengan kain untuk menghindari menghirupnya. Jika memungkinkan, basahi kain tersebut untuk memberikan perlindungan ekstra.
  11. Segera keluar dari pesawat terbang. Jika ada api atau asap, biasanya Anda akan punya kurang dari dua menit untuk keluar dari badan pesawat dengan aman.
  12. Sebaiknya tidak berada terlalu dekat dengan bangkai pesawat karena kebakaran atau ledakan dapat terjadi kapan saja setelah kecelakaan. Dan tetap dilokasi kejadian untuk mempermudah evakuasi.

Referensi:

ICAO (International Civil Aviation Organization) Annex Part 19, tentang Safety Management System

UU No. 1 2009 tentang Penerbangan

CASR (Civil Aviation Safety Regulation), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan) CASR/FAR Part 120 / AC 120-16D Aviation Maintenance Regulation

N 8900.516 Continuous Airworthiness Maintenance Program (CAMP)

Peraturan Menteri Perhubungan RI No. 93 Tahun 2016 tentang Program Keselamatan Penerbangan Nasional

PERMENHUB RI NO. 41 tahun 2016 tentang peraturan keselamatan penerbangan sipil bagian 121 (civil aviation safety regulationpart 121).

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4453542/sederet-kecelakaan-pesawat-di-indonesia-dalam-lima-tahun-terakhir

Mora, Mindha. 2012. Telaahan Literatur Tentang Program Perawatan Pesawat Udara. Jurnal Penelitian Perhubungan Udara, Vol. 38 No. 4.

https://id.wikihow.com/untuk-Selamat-dari-Kecelakaan-Pesawat

https://www.safetysign.co.id/news/411/Panduan-Keselamatan-Penumpang-di-Pesawat-Terbang-Agar-Penerbangan-Aman-dan-Nyaman

http://www.cnn.com/2015/02/06/travel/plane-crash-survival-tips-feat/

http://www.casa.gov.au/scripts/nc.dll?WCMS:STANDARD::pc=PC_91469

http://www.popularmechanics.com/adventure/outdoors/a5045/4344036/

http://www.dailymail.co.uk/travel/travel_news/article-2939318/How-survive-plane-crash-Stay-fit-fly-ECONOMY-think-number-one.html#ixzz3XzCh6GKZ


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *