Alumni Punya Cerita: ARINDRA IRTONUGROHO, SKM

May 11, 2018 0 Comments in News by

87145

Arindra Irtonugroho atau yang biasa disapa Arindra merupakan salah satu anggota dari OSH FORUM FKM UNDIP angkatan 2008. Pengalaman kerja yang didapatkan bukan waktu yang singkat, kak Arindra sudah bekerja selama 8 tahun di 2 perusahaan besar yaitu PT Perusahaan Gas Negara (Persero) TBK dan PT. PGAS Solution yang merupakan perbantuan ke anak perusahaan PGN. Saat ini kak Arindra menjabat sebagai Analyst Operasional K3PL EPC, di PT. PGAS Solution sejak bulan Januari 2018. Selain itu, kak Arindra juga sedang melanjutkan pendidikan S2 di IPMI Business School sejak 2017 hingga saat ini.

Sebelum menjadi Analyst Operasional K3PL EPC, kak Arindra sempat menjadi Specialist QHSSE O&M Distribution sejak Oktober 2016 hingga Agustus 2017 dan HSE Manager Project ENI Muara Bakau sejak Agustus 2017 hingga Januari 2018 di PT. PGAS Solution. Selain itu, kak Arindra sempat bekerja di PT Perusahaan Gas Negara (Persero) TBK sebagai OJT Staff K3, Senior Staff K3, Officer II HSSE Regional Transmission sejak Juli 2010 hingga Oktober 2015. Serta sempat menjadi Specialist, Asset & Reliability Distribution, Lampung Area – Wakil Kepala Teknik Distribusi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) TBK sejak Oktober 2015 hingga Oktober 2016.

Dalam dunia kerja dikenal adanya VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity), segala sesuatunya dapat terjadi dalam waktu yang tidak diduga, sehingga para pekerja diharapkan terus melakukan continuous improvement untuk mengantisipasi hal tersebut. Contoh: oil price drop è lay off pekerja oil & gas dalam jumlah besar; disruptive technology berdampak pada penurunan omset sejumlah bisnis; holding migas è PGN tidak lagi menjadi BUMN Persero; regulasi pemerintah è isu unbundling, price restriction, dan sebagainya.

Apalagi HSE selama ini di banyak industri hanya dipandang sebagai cost center, untuk itu di tengah VUCA World seperti ini, personil HSE harus lebih kreatif dan menunjukkan output yang bernilai tambah kepada perusahaan, bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa HSE juga bisa difungsikan sebagai profit-conscious center. Berbicara mengenai perusahaan, pasti terdapat pimpinan yang memimpin jalannya perusahaan. Berkaitan dengan hal tersebut, HSE pastinya akan berinteraksi dengan bawahan maupun dengan atasan. Terdapat beberapa cara berhubungan dengan atasan  dan bawahan. Setiap personil harus diperlakukan berbeda karena memiliki karakter dan self-preference yang berbeda pula. Cara berkomunikasi pun harus adaptif terhadap permasalahan apa yang sedang dihadapi. Hal seperti ini disebut dengan situational leadership. Di lingkungan kerja bernuansa BUMN, kentalnya senioritas dan birokrasi masih dipandang sebagai hal yang penting, untuk itu harus dapat menyesuaikan diri dengan value dan budaya yang berlaku di perusahaan.

Pengalaman unik yang pernah dialami ketika adanya transformasi perusahaan menjadikan lingkup usaha perusahaan menjadi lebih luas dan berkembang (scope bisnisnya bertambah), sehingga harus belajar proses bisnis yang baru dan menyusun kembali sistem untuk mendukung pencapaian visi misi perusahaan khususnya dalam bidang HSSE, termasuk harus mengalami pindah lokasi kerja berkali-kali selama masa transformasi. Capaian kerja yang didapatkan oleh kak Arindra adalah mendapat kesempatan terpilih menjadi Star Talent PGN. Untuk mencapai hal tersebut, tidak lepas dari usaha dan doa. Cara pencapaian atau usaha yang dilakukan dengan melaksanakan pekerjaan sebaik-baiknya sehingga KPI tercapai (diusahakan melebihi target) dan aktif memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Pada saat melakukan sebuah pekerjaan, kendala itu pasti ada. Kendala yang pernah ditemukan adalah ketika perusahaan mengalami transformasi, banyak sistem yang berubah mulai dari bentuk organisasi itu sendiri hingga proses bisnis, prosedur, dan lain sebagainya, sehingga menjadikan sistem manajemen HSSE yang selama ini dibangun dan dianggap sudah settle, seperti harus dirubuhkan dan dibangun lagi dari awal. Cara mengatasinya adalah menggunakan perspektif bahwa perubahan ini merupakan suatu kebutuhan untuk menjadikan perusahaan menjadi lebih baik ke depannya, dan terus belajar baik dari pengalaman membangun sistem sebelumnya, ataupun mengadopsi dari organisasi lain untuk dapat diterapkan di dalam kondisi seperti ini. Intinya adalah continuous improvement.

“Janganlah bersedih atas apa yang tidak datang bersama saat kamu lahir dan tidak kamu bawa saat kamu mati, jadikanlah pandangan ke langit lebih panjang daripada pandanganmu ke bumi, Inna ila rabbika ruj’a.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *